BROKEN
Kring..
kring.. kringg..
Suara berisik dari jam weker
menggema disebuah kamar. Seorang gadis meraih jam weker itu lalu melemparkannya
ke dinding. Sudah tak terhitung lagi berapa banyak jam weker yang hancur setiap
paginya.
Dengan malas gadis itu duduk diatas
ranjangnya, dilihatnya jam tangan di tangan kirinya. “Whatt!!!” pekik gadis itu
langsung berlari ke kamar mandi.
Karin. Ya.. gadis itu bernama Karina
Hernanda. Gadis cantik yang kini duduk dibangku kelas 2 SMA ini masuk dalam
deretan murid langganan guru BK, ya.. karna Karin adalah salah satu badgirl
disekolahnya.
15 menit kemudian, Karin sudah
lengkap dengan seragam berantakannya. Kemeja yang tidak dimasukkan kedalam rok,
tanpa dasi, lengan kemejanya juga digulung. Dengan langkah seribu gadis itu
berlari menuruni tangga.
“kamu baru bangun Rin? Mama lupa
bangunin kamu.” Kata mama, Karin hanya memutar bola matanya malas. “jelas lupa,
yang dipikirin Cuma kerjaan.” Itu bukan suara Karin, melainkan suara papanya.
“kamu pikir saya kerja buat siapa?!
Buat Karin!” teriak mama. “harusnya kamu sadar! Kerja itu tugas saya! Tugas
kamu Cuma ngurusin anak! Bisa gak sih jadi istri?!” bentak papa tak kalah
emosi.
Brak!!!
Karin menggebrak meja makan
dengan keras membuat perdebatan orang tuanya berhenti. “pagi-pagi itu sarapan,
bukan berantem.” Sindir Karin datar langsung menyampirkan ranselnya dibahu kiri
lalu beranjak pergi meninggalkan kedua orang tuanya.
Dari kejauhan nampak gerbang
sekolahnya sudah terkunci. Karin langsung berlari. “pak.. pak.. bukain
gerbangnya pak.” Teriak Karin.
Seorang satpam keluar dari pos nya.
“aduh neng Karin lagi.. maaf neng gak bisa.” Kata pak satpam. Karin menyatukan
kedua tangannya memohon. “ayolah pak.. sekali aja..” mohon Karin. Tapi pak
satpam tetap kekeuh menggeleng.
Tak hilang akal, Karin berlari ke
gerbang belakang. Gadis itu langsung memanjat dan melompat ke dalam. Sudah
kebiasaan kalo telat, pasti dia lewat gerbang belakang. “huh.. untung gue
pinter..” puji Karin pada dirinya sendiri. Karin berbalik, tiba-tiba...
Settt..
Telinga kiri Karin sudah ditarik
seseorang. “sialan! Siapa sih yang- eh pak Adam.. hehe..” Karin langsung
nyengir melihat pak Adam menjewer telinganya dengan sadis.
“ngapain manjat pager?!” tanya pak
Adam tajam. “telat pak..” Karin menjawab tetap dengan cengiran tak berdosa
diwajahnya. “telat kamu bilang?! Bagus.. ayo ikut saya.” Pak Adam menarik
telinga Karin ke tengah lapangan.
Ditengah lapangan sudah ada tiga
cowok yang senasib seperjuangan dengan Karin. Rey, Lano, dan Bastian. Mereka
sedang hormat bendera, sepertinya Karin juga akan dihukum sama.
“sekarang kamu berdiri disini sampe
jam istirahat, dan-“
“hormat bendera kan pak?” potong
Karin seenak jidat. Ia langsung mengangkat tangannya untuk hormat. Pak Adam
mengangguk lalu meninggalkan murid-murid bandel kesayangannya.
Ketika pak Adam sudah tak terlihat
mereka kompak menurunkan tangannya. “lo telat Rin?” tanya Rey. “gak.. gue lagi
baik hati aja, mau hormatin nih bendera.” Jawab Karin sekenanya. Wajah gadis
itu sedikit pucat sekarang.
“lo sakit Rin?” tanya Lano. Karin
menggeleng. “lo pucet banget loh Rin.. cabut aja yuk..” ajak Bastian. Karin
hanya berdecak kesal lalu menatap ketiga sahabatnya. “lo bertiga bisa diem gak
sih?! Gue gakpapa.” Ketus Karin.
Mereka diam sejenak larut dalam
pikiran masing-masing. “Rin.. lo yakin nolak lomba dari bu Mina?” tanya Lano.
Karin hanya mengangkat bahunya acuh. “gak guna juga gue ikut lomba itu.. menang
ato gak, tetep gak ada yang bangga..” ujar Karin.
Ingatan Karin berputar pada saat ia
menang lomba dulu, ketika gadis itu masih kelas 4 SD. Dengan semangat Karin
memberitahukan kemenangannya pada sang mama tapi jawabannya malah membuatnya
kecewa.
“mama
lagi sibuk Karin.. sana sama papa aja.”
Karin kecil menutupi rasa
kecewanya lalu berlari keruang kerja papanya. Namun jawabannya malah lebih
mengecewakan.
“papa
sibuk Karin! Bisa gak sih kamu gak usah gangguin papa?!”
Pengganggu. Ya.. mulai saat itu
Karin berubah. Dari seorang gadis pintar, rajin, ramah, dan ceria. Menjadi gadis
tomboy, cuek, males, kasar, dan jutek.
Karin menghembuskan nafasnya kasar
mengingat masa lalunya. Sebuah tepukan dibahu membuatnya menoleh. Ketiga
sahabatnya memberi senyum menenangkan dengan tulus. Senyum itu kini menular ke
Karin.
---
Ceklek!
Karin membuka pintu rumahnya.
Gadis itu menghembuskan nafasnya kasar. “baru pulang sekolah.. bukannya
disambut, disuruh makan.. malah sepi..” gerutu Karin. Karin menaiki satu
persatu anak tangga. Samar-samar ia mendengar suara dua orang bertengkar.
Dengan ragu, Karin membuka sedikit
pintu kamar orang tuanya. “kamu liat sekarang?! Anak kamu belum pulang?! Lalu
apa yang kamu lakukan?! Berdiam diri dengan laptop sialan mu itu?!” teriak
mama.
Brak!!
Terlihat papa membanting
berkas-berkas ditangannya ke lantai. “kamu pikir aku ngapain?! Main COC?! Aku
ini lagi kerja! Aku kerja buat siapa?! Buat kalian! Harusnya kamu ngertiin!”
balas papa tak kalah teriak.
“lagi pula.. yang harusnya ngurus
anak itu kan kamu! Kamu yang seorang ibu! Bukannya malah enak-enakkan bisnis
sama temen-temen kamu!” bentak papa.
Mama
langsung menatapnya tajam. “kamu kira aku bisnis juga buat siapa?! Buat Karin!
Buat kita! Aku mau kita punya uang lebih buat masa depan Karin!”
Karin
hanya tersenyum miris mendengar pertengkaran kedua orang tuanya. Masa depan?
Baik bukan orang tuanya memikirkan masa depan Karin? Ya.. mereka baik sekali.
Baik sampai tak tau bagaimana keadaan putri mereka sekarang.
Brak!!!
Karin
membanting pintu kamar orang tuanya lalu berlari pergi mengendarai motor sport
miliknya. Sementara kedua orang tuanya hanya terkejut Karin mendengar
pertengkaran mereka. Meskipun sudah berulang kali terjadi.
---
Kedua
mata Karin mengerjab berkali-kali menyesuaikan dengan penerangan diruang itu.
Ruangan serba putih dengan aroma obat-obatan yang khas. “shiitt!!” umpatnya.
Karin langsung bangkit dan mencabut jarum infus ditangannya.
Dengan
langkah gontai Karin keluar dari kamar rawatnya, ia melirik jam tangan
dipergelangan tangan kiri. “jam 2 pagi..” gumamnya lalu melanjutkan langkahnya
sambil memikirkan yang terjadi padanya tadi malam.
Karin
keluar dari rumahnya, melajukan motornya ke area balap. Lalu tiba-tiba semua
gelap..
Karin
melangkah pelan ke kamarnya. ketika hendak membuka kenop pintu sebuah suara
menghentikan gerakan tangannya.
“dari
mana kamu?!” tanya papa tajam.
Karin
menghembuskan nafasnya mencoba menghilangkan sakit kepala yang tiba-tiba
menyerangnya. “gak dari mana-mana.” Jawab Karin seadanya. Kepalanya serasa mau
pecah sekarang, ia langsung menutup pintu kamarnya tanpa peduli teriakan kedua
orang tuanya.
Sambil
memegangi kepalanya, Karin mencari sesuatu dilaci meja, dia mengeluarkan
berbagai macam botol. Beberapa pil ia keluarkan dari botol-botol itu. Kemudian
ia meminumnya dengan air mineral.
Karin
menghembuskan nafasnya lelah ketika rasa sakit itu mulai menghilang. Ditatapnya
obat-obatan ditangannya dengan sendu. “sampe kapan gue harus hidup dengan
obat-obatan ini?” gumamnya lalu memasukan kembali obat-obatan itu.
Pagi
yang cerah.
Karin
membuka kedua matanya ketika sinar matahari menyusup kesela-sela gorden. “jam
berapa nih?” gumamnya melihat jam tangan. Jam 10.00. “gue kesekolah aja kali
ya..” katanya lalu berjalan memasuki kamar mandi.
Dengan
langkah malas, Karin memasuki ruang kelasnya. Sebelumnya ia mendapat wawancara
dulu dari guru piket, biasalah gara-gara telat. “permisi bu..” Karin melangkah
ke bangkunya tanpa merasa bersalah sama sekali.
“kenapa
baru datang Karina?!” tanya bu Ida tajam sambil membenarkan letak kacamatanya.
Karin berbalik lalu menatap guru bahasa indonesia itu dengan malas. “saya males
bu..” jawabnya santai lalu melanjutkan langkahnya ke bangku.
Baru
saja Karin duduk, bu Ida sudah menghampirinya dengan tatapan tajam nan menusuk.
“bu.. saya lagi males dihukum.. hukumannya besok aja ya..” kata Karin. Sebenarnya
ia sedang menahan rasa sakit dikepalanya saat ini.
Tanpa
ba bi bu lagi, bu Ida menarik Karin untuk ke tengah lapangan dan dia juga
menyuruh semua murid untuk keluar melihatnya. Tolong garis bawahi! SEMUA MURID!
Kini
Karin berdiri ditengah lapangan, lebih tepatnya diatas podium yang biasa
digunakan untuk amanat pembina saat upacara. “sekarang hukuman buat kamu.. kamu
harus cerita tentang kehidupan kamu.. lengkap tanpa terkecuali dan harus
jujur.” Karin menghembuskan nafasnya pelan.
“gue
Karin. Karina Hernanda. Mungkin kalian udah kenal gue sebagai badgirl sekolah
ini. Cewek yang slalu bikin masalah, cewek yang slalu bikin ulah, cewek yang
slalu ngebully kalian, cewek yang ngerusak nama baik sekolah dan keluarga. Kalo
itu yang kalian pikirin? Selamat! Kalian salah.”
“gue
emang badgirl.. gue emang suka bikin ulah.. lo semua mau tau kenapa? Karna gue
pengen diperhatiin.. gue pengen semua orang merhatiin gue.. gue anak tunggal
yang kekurangan kasih sayang.. orang tua gue sibuk sama kerjaan mereka masing-masing..
mereka gak peduli sama gue.. bahkan, mereka gak tau kalo gue nyimpen satu
rahasia dari mereka.”
Karin
menarik nafasnya dalam lalu menghembuskannya perlahan. “gue sakit. Gue punya
penyakit kanker otak stadium akhir.” Terlihat semua murid terkejut, bahkan
semua guru. Tapi tidak dengan ketiga sahabat Karin. Mereka hanya tersenyum
menyemangati Karin.
“gue
gak mau lo semua kasihan sama gue.. gue gak mau kalian natap gue seolah gue ada
diurutan teratas daftar malaikat pencabut nyawa..” Karin terkekeh sejenak.
“ya.. gue emang sakit parah.. gue juga tau kalo bentar lagi gue bakal mati..
dan gue harap ketika gue udah gak ada.. kalian tetep inget gue sebagai Karin
yang badgirl, bukan Karin yang mati karna penyakit sialan ini..”
“gue
mau ngucapin sesuatu.. terutama buat ketiga sahabat gue..” Karin menatap ketiga
sahabatnya, terlihat gadis itu sangat pucat. “makasih udah mau jadi sahabat
gue.. makasih lo semua tetep ada disamping gue walaupun hidup gue gak akan lama
lagi..”
“lo
akan tetep hidup Karin!!” teriak Rey dan Bastian bersamaan, sementara Lano
masih memegang ponsel untuk memvideo Karin. Ini semua atas permintaan Karin.
Karin
terkekeh mendengar teriakan sahabat-sahabatnya. “gue harap juga gitu..” katanya
tersenyum. “yang selanjutnya buat guru-guru.. buat pak Adam, bu Ida, bu Mina,
pak Arka, dan semua guru-guru yang pernah saya bikin jengkel.. saya mau minta
maaf.. maaf kalo selama ini saya bikin kalian naik darah..” Semua guru kini
sudah menangis.
“selanjutnya
gue mau ngomong sesuatu buat kedua orang tua gue.. mungkin sekarang mereka
memang gak ada disini, tapi gue udah minta sahabat gue buat ngerekam gue dan
tunjukin ke orang tua gue ketika gue udah gak ada nanti..”
“Ma..
Pa.. maafin Karin ya.. Karin gak bisa jadi anak yang bisa kalian banggain..
Karin sadar, Karin adalah penyebab kalian berantem tiap hari.. kalo aja Karin
gak ada.. mungkin kalian gak akan nyalahin satu sama lain..”
“mama
sama papa tau gak? Karin sedih pa.. ma.. Karin sedih.. tiap hari Karin harus
ngeliat kalian berantem.. tiap hari Karin harus mati-matian nahan sakit
sendirian.. kalian dimana saat Karin butuh kalian? Kalian kemana saat Karin
sendirian?”
Karin
menyeka air matanya. “tapi Karin bangga kok ma.. pa.. Karin bangga punya orang
tua kayak kalian.. seenggaknya, dengan kalian gak peduli sama Karin.. kalian
gak akan ngerasa kehilangan Karin.. makasih udah lahirin Karin.. makasih udah
biarin Karin ngeliat dunia.. makasih udah biarin Karin ngerasain hidup.. Karin
sayang Mama.. Karin sayang Papa.. Karin sayang kalian..”
Brukk!!
“KARINN!!”
Semua
langsung berlari kearah Karin yang tiba-tiba ambruk. Mereka segera membawa
Karin ke rumah sakit.
---
Hujan turun mengiringi pemakaman
seorang gadis SMA. Tangisan dari orang-orang pun tak dapat disembunyikan.
Bahkan mama Karin sudah menangis histeris didepan makam putri tunggalnya.
Disampingnya, sang suami mengusap lengan sang istri dengan sayang.
“kenapa kamu pergi sayang? Kenapa
kamu ninggalin mama? Mama sayang sama kamu sayang.. ayo kita lakuin apa yang
kamu mau.. mama akan turutin sayang.. hiks..” tangis mama Karin sesegukan.
Lano mendekat ke kedua orang tua
Karin, ia menyerahkan ponselnya ke mereka. “Karin nitip ini buat kalian..” kata
Lano. Mama Karin segera melihatnya, ternyata video. Video dimana Karin
mengungkapkan semua tentang dirinya. Dimana Karin mengidap penyakit kronis.
Dimana Karin merasa sendirian. Dimana Karin membutuhkan kasih sayang kedua
orang tuanya.
Tangis mama Karin semakin kencang.
Ia tak menyangka terlalu mengabaikan putri semata wayangnya. Ia mengusap batu
nisan Karin. “maafin mama sayang.. mama salah.. mama gak tau kamu nanggung ini
semua sendiri sayang.. mama sayang sama kamu.. maafin ma-“
Ucapan mama Karin terhenti ketika
tiba-tiba tubuhnya ambruk. Dengan sigap papa Karin membawa istrinya ke dalam
mobil meninggalkan makam putri mereka. Sementara ketiga sahabatnya masih diam
disana menatap nisan sahabatnya.
Rey berjongkok lalu mengusap nisan
Karin. “tenang disana ya Rin.. gue tau lo pasti bahagia disana..” kata Rey.
Kini giliran Bastian. “lo seneng kan Rin? Lo pasti seneng disana karna lo gak
lagi ngerasain penyakit sialan itu. Gue juga seneng kalo lo seneng.” Mereka
berdua bangkit lalu meninggalkan Lano disana.
Lano berlutut dihadapan
peristirahatan terakhir Karin. “gue terlambat Rin.. gue terlambat ngungkapin
perasaan gue ke elo.. gue terlambat karna lo udah pergi duluan.. lo pergi
ninggalin gue Rin? Lo jahat sama gue.. kok lo pergi gak ngajak gue sih? Kan gue
pengen sama lo terus..”
“lo tunggu gue disana ya.. tungguin
gue nemuin lo disana.. gue janji kita bakal sama-sama lagi disana.. tapi gue
harap lo sabar nunggu gue.. gue sayang sama lo Karin.. bahagia disana ya
cantik..” kata Lano lalu beranjak pergi.
-kalian salah kalo
mikir ‘broken heart’ itu paling menyakitkan. Berarti kalian belum tau bagaimana
rasanya menjadi anak ‘broken home’. Karna hanya orang yang benar-benar tangguh
yang sanggup menjalaninya.-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar