Rabu, 28 Juni 2017

Cerpen remaja tentang "My Last"


DEANDELION

(Cindika Nur Hayati)
            “pagi Deani Ananda.. kesayangannya Leon.”
            Gadis yang disapa Dean itu menghembuskan nafasnya kasar mendengar sapaan kekasihnya, Leon. Tanpa membalas, Dean segera naik ke motor Leon setelah mengenakan helm.
            “siap cantik?”
            “hm.”
            Leon segera melajukan motornya membelah jalan raya menuju SMA Bakti. Sepanjang perjalanan, hanya Leon yang membuka suara sedangkan Dean hanya membalas dengan gumaman.
            Ketika motor Leon memasuki area parkiran sekolah, Dean segera turun dari motor. Ia berbalik menuju kelasnya tapi terhenti karna Leon menarik lengan gadis itu.
            “kenapa sih Leon?!”
            Tangan Leon terulur merapikan rambut Dean dan menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga. “buru-buru banget sih? Gue kan masih mau ngomong.” Leon tersenyum tulus.
            “belajar yang bener ya.. jangan lupa makan, sama satu lagi gue mau kasih sesuatu.” Leon mengambil sebuah bunga dandelion disakunya, lalu menyerahkannya dihadapan Dean.
            “tiup.”
            Dean berdecak kesal menepis bunga itu. “apaan sih Leon?! Gue tuh buru-buru! Lagian apaan sih suruh tiup-tiup?! Ini tuh rumput liar! Gak penting!” Dean langsung meninggalkan Leon.
            Leon terdiam memandangi bunga dandelion yang ditepis oleh Dean, padahal bunga itu berarti bagi dirinya. Pemuda itu menghembuskan nafasnya kasar lalu mengambil dandelion itu dan meniupnya hingga kelopak bunga itu berterbangan diterpa angin.
----
            Suasana kantin yang tadinya berisik dengan suara-suara murid yang berebut mengisi perut mereka, kini semakin riuh karna teriakan seorang cowok yang baru sampai dikantin.
            “Deaaannn.. Leon dataanngg..”
            Semua murid hanya terkekeh, mereka tahu bahwa Leon adalah cowok ganteng yang kelewat ceria. Sementara Dean hanya mendengus kesal melihat Leon mendekat kearahnya sambil tersenyum konyol.
            Leon duduk didepan Dean dengan senyum konyolnya membuat Dean memutar bola matanya malas. “kenapa sih Leon?! Lo itu seneng banget bikin gue malu!! Please.. sekali aja jangan bikin gue malu!!”
            Bukannya marah atau tersinggung, Leon malah mengusap rambut panjang Dean sambil menatapnya lembut. “kenapa sih marah-marah mulu? Nanti capek loh..” kata Leon lembut.
            Jika gadis lain, mungkin akan tersipu mendengar ucapan dan perlakuan lembut dari Leon. Tapi lain dengan Dean, ia memutar bola matanya malas sambil menepis tangan Leon dari rambutnya.
            “apaan sih lo?! Gak usah sok manis! Alay!”
            Leon masih menampilkan senyuman tampannya. Entah kenapa gadis itu mampu membuatnya tidak berpaling, meski gadis itu selalu jutek dan kasar. Mungkin ini yang orang bilang cinta bikin orang jadi bodoh.
            “udah ya.. jangan marah-marah mulu.. mending kita makan, udah pesen makan belom?” tanya Leon.
            Dean hanya bergumam. Leon tahu, Dean belum memesan makanan karna dimeja ini belum ada sebungkus makanan pun. Selalu seperti itu, setiap istirahat Leon akan memesankan makanan untuk Dean. Tidak peduli sesibuk apa pemuda itu.
            “yaudah.. tunggu disini, gue pesenin makanan.”
            Leon segera bangkit menuju stand makanan. Ia bahkan rela berdesak-desakan dengan siswa lain agar bisa mendapat antrian. Tentu saja ini dilakukan demi Dean.
            “gue yakin lo bakal nyesel.”
            Suara itu membuat Dean menoleh. Ia mengerutkan keningnya ketika melihat seorang pemuda yang ia tahu bernama Nevan, sahabat Leon.
            “maksud lo apa?!” ketus Dean.
            Nevan mengangkat bahunya, kedua tangannya masih setia didalam daku celana. “gue cuma yakin lo bakal nyesel sama apa yang lo lakuin ke Leon, gak sekarang, tapi nanti.”
            Dean menatap Nevan sinis. “bukan urusan lo!”
            “bukan urusan gue, tapi Leon sahabat gue.”
            Baru saja Dean hendak membuka mulutnya untuk membalas ucapan Nevan, Leon datang membawa nampan berisi makanannya.
            “loh Nevan? Lo sendiri? Yang lain mana?” tanya Leon.
            Nevan tersenyum kearah Leon. “iya gue sendiri, yang lain masih dilapangan. Gue cuma suruh nyampein ke elo, kalo lo udah selesai sama cewek manja lo, langsung ke lapangan.” Kata Nevan menekankan kata manja.
            Leon hanya mengangguk.
            “yaudah gue balik ke lapangan deh.. kasian anak-anak pada nunggu.” Nevan segera pergi dari kantin setelah mendapat anggukan lagi dari Leon.
            Leon kembali duduk didepan Dean. “gak usah dengerin Nevan ya..”
Dean hanya membalasnya dengan gumaman. Tapi membuat Leon mengembangkan senyumannya lalu menyondorkan nampan berisi makanan ke Dean. “nih dimakan dulu.. ntar gue ke lapangan setelah lo abisin makanan lo.”
----
Berulang kali Dean melirik arloji dipergelangan tangannya sambil terus memandang sekitar. Sudah setengah jam ia menunggu Leon diparkiran, tapi pemuda itu belum menunjukan batang hidungnya.
“nih anak kemana sih?! Gak tau apa gue kepanasan?!”
Sepuluh menit kemudian terlihat seorang pemuda berlari kearahnya. Pemuda itu tak peduli dengan keringat yang membanjiri tubuhnya, juga nafasnya yang ngos-ngosan.
“aduh.. maaf ya Dean, lama ya nunggunya?” tanya Leon sambil menumpukan kedua tangannya pada lutut.
Dean memutar bola matanya malas, ia menyilangkan kedua tangannya didepan dada. “masih nanya?! Lo itu kemana aja sih?! Gue tuh udah nunggu setengah jam! Lo mau bikin gue gosong berdiri disini?! Kalo gak bisa nganterin gue balik tuh ngomong! Punya mulut kan?!”
Hanya saat seperti ini Dean mau berbicara panjang lebar dengan Leon, maskipun semua ucapannya bernada ketus bahkan membentak. Tapi Leon tetap memperpanjang masa sabarnya, ia terlalu menyayangi gadis ini.
Tangan Leon terulur mengusap rambut panjang Dean, tapi gadis itu menepisnya dengan kasar. “gue minta maaf ya.. tadi itu ada jam tambahan, gue gak sempet ngabarin lo.. hape gue mati.” Ucap Leon lembut.
“ya lo kan bisa ijin keluar buat kasih tau gue! Bilang kek mau ke toilet! Punya otak dipake dong!” Dean menekan pelipisnya sarkas.
Leon hanya menarik nafasnya dalam lalu menghembuskannya perlahan. “jangan marah-marah terus Dean..” Leon mengusap sayang kening Dean yang dibanjiri keringat. “gue minta maaf.. sekarang gue anterin pulang ya.”
“gue laper!” ketus Dean tak mau menatap Leon.
Kedua sudut bibir Leon tertarik membentuk senyuman, ia menarik lembut tangan Dean menuju motornya. “yaudah.. kita makan dulu ya..” katanya Lembut lalu membantu Dean menaiki motornya.
Motor Leon segera menjalankan motornya keluar gerbang menuju sebuah restoran. Bagi Leon tak masalah sesering apa Dean menguji kesabaran Leon, baginya Dean adalah segalanya. Gadis yang ia sayangi.
Mereka berhenti disebuah restoran kesukaan Dean. Tanpa menunggu Leon, Dean langsung turun dari motor dan berjalan menuju restoran. Tapi ekor matanya mendapati seorang penjual permen kapas disebrang jalan. Meskipun Dean adalah cewek jutek, tapi tak memungkiri bahwa gadis itu menyukai hal-hal manis. Permen kapas misalnya.
Tanpa mengindahkan Leon yang masih memarkir motornya, Dean langsung berlari menuju penjual permen kapas itu. Bahkan gadis itu tidak memperhatikan bahwa ada sebuah mobil yang melaju kencang kearahnya.
“DEAAANNN!!!!”
Ccciiiiiiittttttt!!!!!!!!
Brukkk!!
Dean merasakan tubuhnya melayang karna didorong seseorang. Sejadiannya begitu cepat hingga Dean hanya menyadari bahwa dirinya sudah terduduk dipinggir jalan. Ia mengedarkan pandangannya kesekeliling yang dipenuhi banyak orang, hingga pandangannya terhenti pada sosok pemuda yang kini bersimbah darah.
“LEONN!!!”
Diletakannya kepala Leon dipangkuan Dean, ia mengusap wajah Leon yang sudah dipenuhi darah. Air matanya semakin deras ketika melihat Leon bersusah payah membuka kedua matanya.
“De.. Dean.. uhuk!”
Dean semakin panik ketika Leon batuk darah. “Leon... kenapa sih lo tolongin gue? Lo harusnya biarin aja gue ketabrak.. biarin gue mati.. gue udah jahat sama lo..”
Wajah pucat Leon masih sempat memperlihatkan senyum tampannya. Tangannya yang penuh darah mengusap air mata Dean yang mengalir dipipinya. “ja..jangan.. nang..is Dean.. gu.. gue sa.. sayangg.. sama.. lo..”
Tangan Leon merogoh saku jaketnya, ia mengeluarkan sepucuk bunga dandelion lalu menyondorkannya ke Dean. “satu.. permintaan gu..e Dean.. kita.. tiup bu..bunga ini.. sama-sa..ma..”
“Leon lo ngomong apa sih?”
“please.. Dean.. turutin per..mintaan.. gue.. terakhir kali..”
Dengan nafas sesegukan, Dean mulai meniup bunga dandelion ditangan Leon bersama pemuda itu. Kelopak dandelion itu berterbangan ditiup angin seiring dengan kedua mata Leon yang mulai menutup, pemuda itu menjatuhkan lengannya.
“Leon?! Leon bangun!” Dean mengguncangkan bahu pemuda itu berharap jika ia akan bangun. “Leon wake up! Leon! Don’t close your eyes Leon! Please.. wake up! Wake up Leon!”
Tak ada respon. Kini pemuda itu tidak lagi menuruti ucapan Dean, pemuda itu telah tertidur damai dalam pangkuan Dean untuk pertama dan terakhir kali tanpa ada yang bisa membangunkannya.
---
Gadis itu masih menangisi gundukan tanah didepannya, gundukan tanah yang menjadi tempat peristirahatan terakhir kekasihnya. Pusara dengan batu nisan dengan ukiran nama ‘Delion Aksa Biedda’.
Dean menoleh ketika seseorang menepuk bahunya. Terlihat Nevan tengah berdiri disampingnya, pemuda itu ikut berjongkok lalu memberikan sebuah kotak kado yang terbungkus kertas bergambar bunga dandelion.
“dari Leon.”
Nevan langsung mengusap batu nisan Leon setelah Dean menerima kotak itu. Ia menatap sendu peristirahatan terakhir sahabatnya. “gue udah ngelakuin apa yang lo suruh, tenang disana Leon.” Kata Nevan lalu beranjak pergi.
Seperginya Nevan, Dean membuka kotak itu. Air matanya semakin deras ketika mendapati ebuah boneka teddy bear yang membawa sebuket bunga dandelion, disana juga terdapat sebuah surat.
Untuk Dean,
Maaf ya gue sering bikin lo kesel sama permintaan gue tentang bunga dandelion. Gue gak maksa lo suka sama bunga itu kok. Gue cuma pengen lo tau arti bunga itu buat gue.
Lo tau gak? Gue udah nganggep bunga dandelion itu sebagai gabungan dari kita berdua. DeanDelion. Alay ya? Hehe.. maaf ya..
Gue mau ngucapin happy anniversary yang ke dua tahun sayang. Gue sayang sama lo Deani Ananda.
Love,
Leon
Dean kembali menangis, ia memeluk boneka pemberian Leon. “maafin gue Leon.. gue juga sayang sama lo.. maafin gue.”
Menyesal itu memang datang terakhir. Bukan karna disengaja, melainkan karna takdir yang mempermainkan manusia.
Seperti Dean yang baru menyadari seberapa sayang dan sabarnya seorang Leon. Sekarang ia menyesal, ketika yang ia lihat kemarin adalah senyum Leon yang terakhir kali, sikap sabar Leon yang terakhir kali, dan.. ucapan sayang Leon yang terakhir kali.
**End** 

 sebenernya cerpen ini gue ikutin ke sebuah event lomba cerpen, tapi karna ditolak yaudah gue post aja di blog :D
daripada nganggur gak guna dilaptop, mending buat isi blog kan?
semoga pembaca suka sama cerita-cerita yang gue post ya..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar